mengkaji,
menilai,
memahami,
menimbang dan menyelidik,
maka ia dipanggil akal (akal qalbu)
allah ujud dalam qalbu tiap orang beriman dan beramal; sebagai mana ada nya iblis dalam qalbu adanya allah dan syurga dalam tiap hati sanubari yang mana disebut qalbu ;pokok pangkal hati tempat tinggal iblis dan ada nya allah dalam hati orang beriman dan beramal;sebagai mana orang arb dahulu berkata ada nya tuhan siang tuhan malam begitu jua dalam islam tuhan bagi manusia munafik kafir jahil syiatan iblis bagi nya yang akan di pimpin dalam neraka dan di hari kebangkittan kemudia. sebagai mana orang arab terdahulu ada nya dewa baik dewa jahat , begitu jua dalamislam ada nya dalam qalbu tempat tinggal iblis dan allah dalam hati orang beriman dan beramal; sebagai mana wali wali allah yakni orang yang dekat dengan allah hingga ada ayat yang menyatakan bahawa terlalu dekat nya allah dengan orang orang yang allah namakan wali wali nya yang mana makna orang orang yang dekat dengan allah;
Oleh karenanya dikatakan bahwa hati adalah inti dan pusat kendali seluruh gerak dan aktivitas . Bersih dan kotornya hati seseorang akan segera berdampak pada perilaku dan perbuatannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati” (HR Bukhari 50 , HR Muslim 2966) yang maknanya adalah apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya”Hati mempunyai makna dzahir yakni segumpal darah dan makna bathin seperti dalam kalimat “hati yang lapang” atau “hati yang sempit” atau “mata hati” Orang gila disebut sebagai orang yang kehilangan akal walaupun secara dzahir mereka tentu masih memiliki akal pikiran atau otak namun mereka kehilangan akal qalbu. Setan mengganggu manusia melalui bisikan ke dalam hati manusia. Firman Allah ta’ala yang artinya “Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia” (QS An Naas [114]:4-5) Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setan berjalan di tubuh manusia pada peredaran darah, aku khawatir setan itu melontarkan kejahatan di hati kamu berdua , sehingga timbul prasangka yang buruk.” (HR Bukhari dan Muslim) Firman Allah ta’ala yang artinya, “Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka” (QS An Nisaa [4]:120) Setan akan menguasai manusia melalui sepuluh pintu yakni 1. Melalui sifat bohong dan angkuh 2. Melalui sifat bakhil 3. Melalui sifat takabur 4. Melalui sifat khianat 5. Melalui sifat tidak suka menerima ilmu dan nasihat 6. Melalui sifat hasad 7. Melalui sifat suka meremehkan orang lain 8. Melalui sifat ujub atau bangga diri 9. Melalui sifat suka berangan-angan 10. Melalui sifat buruk sangka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“ Imam asy-Syafi’i, seorang Imam mujtahid yang madzhabnya tersebar di seluruh pelosok dunia, telah menetapkan dengan jelas bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, maka bagi siapapun yang bukan seorang mujtahid tidak selayaknya menyalahi dan menentang pendapat Imam mujtahid. Sebaliknya, seorang yang tidak mencapai derajat mujtahid ia wajib mengikuti pendapat Imam mujtahid. Allah ta’ala berfirman: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11) Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al Jawhar al Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jisim). Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam; 1. Benda Lathif: sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya. Jangan pernah sedikitpun anda meyakini keyakinan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), seperti keyakinan kaum Musyabbihah, (sekarang Wahhabiyyah) yang menetapkan bahwa Allah bertempat di atas arsy. Bahkan mereka juga mengatakan Allah bertempat di langit. Ada di dua tempat?! Heh!!! Padahal mereka yakin bahwa arsy dan langit adalah makhluk Allah. Na’udzu Billahi Minhum.....
Tiada ulasan:
Catat Ulasan